Saat ini
indonesia mengalami sebuah keadaan pandemi yang mengakibatkan berkurangnya
mobilitas kegiatan bersosial, seperti pada sistem pembelajaran yang terpaksa
harus dilakukan secara daring dengan tujuan mengurangi mobilitas dan kontak
sosial siswa dan siswi.
Peran
guru dalam membina siswa dan siswinya untuk melakukan pendidikan karakter
terbatas oleh aksebilitas sehingga interaksi dan koneksi antara guru dan siswa
berkurang. Berkurangnya interaksi dan koneksi tersebut membuat siswa tidak
memiliki pendidik yang membinanya, oleh karena itu dengan keadaan terpaksa orang tua
lah yang harus menggantikan peran dari guru untuk membina anak anaknya.
Namun beberapa
orang tua mengangap dirinya belum siap untuk menerapkan pendidikan karakter di
keluarga, banyak orang tua siswa yang mengeluhkan situasi dimana anak anaknya
yang stres akibat perubahan signifikan dalam metode pembelajaran. Orang tua
tidak bisa melakukan pendekatan dengan anaknya dikarenakan stress tersebut,
sehingga interaksi yang dilakukan benar benar minim baik dari guru maupun orang
tua. Tanpa adanya interaksi maka pendidikan karakter akan sulit untuk ditempuh.
Pendidikan karakter dirumah sejatinya tidak hanya dipegang oleh orang tua tetapi dilaksanakan bersama oleh satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Karena kehawatiran orang tua yang belum siap menerapkan pendidikan karakter maka guru harus merubah metode pembelajaran yang diberikan, guru harus mencari mengembangkan metode pembelajaran yang mengandung bimbingan karakter siswa, sehingga secara tidak langsung meringankan tugas orang tua dalam membina anaknya dirumah.
Selain itu satuan
pendidikan lainnya juga bisa memadukan kegiatan hari besar dengan nilai nilai
karakter, seperti hari sumpah pemuda, siswa dan siswi harus mengetahui apa
karakter yang dimiliki dalan hari sumpah pemuda tersebut misalnya pantang
menyerah, nasionalisme, gotong royong dan sebagainya. Program tersebut juga
bisa membantu siswa dalam mengimplementasikan pendidikan karakter yang
diperolehnya dalam masyarakat.